Senin, 04 Juni 2012

OBSERVASI DAN KORELASI ANTARA CANDI SUMUR DENGAN TINJAUAN PSIKOLOGI


A. Sejarah
Pada zaman dahulu kala seorang tua bernama Kyai Gede Penanggungan yang hidup di pegunungan. Ia mempunyai adik perempuan janda bertempat tinggal di desa Ijingan. Kyai Gede Penanggungan mempunyai 2 orang anak perempuan. Yang sulung bernama Nyai Loro Walang Sangit, dan yang bungsu bernama Nyai Loro Walang Angin, keduanya berdiam di rumah Kyai Gede Penanggungan. Sedangkan adiknya janda Ijingan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Jaka Walang Tinunu. Setelah dewasa ia sangat tampan dan hormat kepada ibunya.
Pada suatu hari ia menanyakan kepada ibunya siapakah ayahnya, tetapi ibunya tidak mau menjawab dan hanya berkata : “Kamu tidak punya ayah tapi Kyai Gede Penanggungan adalah kakak saya.” Kemudian Jaka Walang Tinunu disertai oleh dua orang temannya yaitu Satim dan Sabalong menuju ke dukuh [1] Kedungkras.[2] Setelah menetap di sana tanpa suatu rintangan apapun, mereka mulai membabat rimba di Kedung Soko yaitu arah utara Kedung Kras dan arah selatan desa Candi Pari.
Beberapa waktu kemudian pada suatu malam teman-teman Jaka Walang Tinunu dengan sepengetahuannya memasang wuwu[3] di kali (sungai) Kedung Soko. Esok harinya wuwu diambil dan ternyata berhasil menangkap sekor ikan kotok[4] yang dinamakan Deleg. Betapa gembiranya si Sabalong lalu ditunjukkannya kepada Jaka Walang Tinunu dan Satim. Setelah ikan dipotong dan dimasak, tetapi ajaibnya ikan dapat berbicara layaknya manusia dan menerangkan bahwa ia sebenarnya bukan ikan, tetapi seorang manusia. Ia dulu bernama Sapu Angin yang mengabdi pada pertapa dari Gunung Pamucangan dan ia berdosa pada pertapa itu karena pernah mempunyai keinginan untuk menjadi raja. Dan ia diperkenankan menjadi raja ikan, dengan demikian maka berubahlah ia menjadi Deleg sampai masuk ke wuwu. Waktu mendengar riwayat Deleg itu maka terharulah Jaka Walang Tinunu dan berkata : “Barang siapa berasal dari manusia kembalilah menjadi manusia.” Dan seketika itu ikan Deleg berubah menjadi manusia yang hampir setampan dengan Jaka Walang Tinunu lalu diberi nama Jaka Pandelegan dan diangkat sebagai adik dari Jaka Walang Tinunu.
Demikianlah lalu mereka bersama-sama membuka tanah dan setiap hari mengolah tanah untuk lahan pertanian. Kemudian Jaka Walang Tinunu memikirkan soal bibit, tetapi menemui jalan buntu, sebab ia sangat miskin tidak punya apa-apa untuk membeli keperluan menggarap sawah. Tetapi tiba-tiba ia ingat apa yang dikatakan ibunya dulu tentang Kyai Gede Penanggungan tetapi ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya kepada beliau. Maka permohonannya tentang bibit disampaikan kepada Nyi Gede selanjutnya disampaikan kepada suaminya. Namun Kyai Gede tidak percaya bibit itu akan dipergunakan untuk bersawah.
Sebaliknya kedua putrinya waktu kedatangan Jaka Walang Tinunu dan Jaka Walang Pandelegan asmara di dada mulai tumbuh melihat kesopanan dan ketampanan kedua pemuda itu. Baru kali pertama kedua gadis tersebut melihat pemuda yang begitu sopan dan tampan. Jaka Walang Tinunu dan Jaka Walang Pandelegan kecewa karena permohonannya tidak dikabulkan, hanya diberi mendang yang apabila disebarkan tidak akan tumbuh. Lalu kedua putrinya disuruh untuk mengambilkan mendang tersebut. Karena kedua putrinya menaruh hati maka kesempatan itu tidak disia-siakan untuk mencampur bibit padi dengan mendang yang akan diberikan itu. Lalu diserahkan kepada pemuda itu dan Kyai Gede mengatakan itulah bibitnya.,
Setelah menerima mendang satu karung mereka mohon diri. Kedua putrid Kyai Gede sudah mencintai kedua pemuda itu maka keduanya meminta izin kepada orang tuanya untuk ikut kedua pemuda itu, tetapi tidak diperkenankan. Akhirnya kedua putrinya hanya memesan kepada kedua pemuda itu agar menanamkan padi untuk memberitahukan kepada Nyai Gede.
Setibanya di rumah, secepatnya mendang tersebut disebarkan di sawah dengan mendapatkan ejekan dari Sabalong dan Satim karena yang disebarkan itu tidak mungkin dapat tumbuh. Namun demikian Jaka Pandelegan dan Jaka Walang Tinunu percaya apa yang diucapkan Kyai Gede Penanggungan tersebut.
Ternyata tumbuhnya sangat baik, benar-benar seperti bibit yang sesungguhnya. Waktu pemindahan tanaman tiba, Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan datang lagi kepada Nyai Gede untuk memohon izin agar kedua putrinya membantu menanam padi, tetapi tidak dikabulkan dengan dalih bahwa kedua putrinya akan dipinang oleh raja Blambangan. Padahal keduanya sudah sama-sama saling mencintai. Lalu kedua pemuda itu kembali pulang dan diam-diam kedua putrid Kyai Gede melarikan diri menyusul kedua pemuda tersebut. Nyai Loro Walang Angin ingin menjadi istri Jaka Pandelegan dan Nyai Loro Walang Sangit ingin menjadi istrinya Jaka Walang Tinunu. Akhirnya keduanya dapat bertemu dengan kedua pemuda itu di tengah jalan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Kedung Soko.
Setelah Nyai Gede mengetahui bahwa putrinya tidak ada. Lalu Nyai Gede memberitahukan kepada Kyai Gede, lalu Kyai Gede mengejar kedua putrinya itu. Dan Kyai Gede bertemu mereka di tengah jalan lalu dihentikan dan kedua putrinya dipaksa untuk kembali ke rumah, tetapi ditolaknya. Sedangkan kedua pemuda itu tak menghiraukannya karena kedua putrinya ikut pada kedua pemuda itu atas kemauannya sendiri. Maka terjadilah suatu pertengkaran yang berakhir di pihak Kyai Gede. Sehingga terpaksa pulang kembali tanpa disertai kedua putrinya, sedang mereka berempat melanjutkan perjalanan ke Kedung Soko.
Waktu tanaman berusia 45 hari, sawah kekurangan air sehingga Jaka Walang Tinunu menyuruh Jaka Pandelegan menyelidiki air. Ketika berada di tengah sawah bertemulah ia dengan orang tua yang menceritakan perjalanannya yang menyebabkan ia buta. Saat ia akan membunuh orang tersebut, lalu ia jatuh pingsan. Setelah ia sadar sangatlah ia takut dan menanyakan namanya. Lalu orang tua tersebut menjawab : “Saya nabi Khidir! Pelindung semua air.” Kemudian orang tua itu member nama kepada Jaka Pandelegan denga nama Dukuh Banyu, lalu orang tua tersebut berkata : “Kalau kamu sudah selesai bertanam adakanlah selamatan[5] apabila kamu ingin berhasil.” Setelah itu orang tua itu menghilang. Waktu Jaka Pandelegan datang ke sawahnya ternyata sudah melimpah air yang melimpah sampai panen tiba.,
Menurut shohibul hikayat menurut pemotongan padi, karena luasnya sawah dan baiknya jenis tanaman, maka orang dari segala penjuru datang untuk ikut drep (memotong padi) tersebut juga diceritakan bagian muka dipotong dan bagian belakang yang baru saja dipotong sudah dilihat ada tanaman pada bagian belakang yang menguning, sehingga tidak ada habis-habisnya. Semua hasil panen dikumpulkan di penangan tepat di tempat candi pari yang berdiri sekarang ini, dan betapa banyaknya padi penangan ini.
Sementara waktu kemudian kerajaan majapahit mengalami paceklik, pertanian gagal dan banyak petani sakit. Lumbung padi dalam keraton yang biasanya penuh menjadi kosong karena luasnya sawah yang gagal panen.
Ketika Prabu Brawijaya mendengar bahwa berdiam seorang yang arif yang memiliki banyak padi, maka diperintahkan kepada Patinya untuk meminta penyerahan padi yang dibawakan perahu ke sungai tenggara Kedung Soko.
Akhirnya Jaka Walang Tinunu juga bersedia untuk menyerahkan padinya kepada utusan sang prabu, dan padi-padi tersebut diangkat ke tebing sungai dan selanjutnya dimuatkan pada perahu-perahu itu. Walaupun berapa banyak perahu yang disediakan namun padi yang disediakan di tebing tetap tidak muat sehingga tempat tersebut dinamakan Desa Pamotan. Lalu padi dipersembahkan pada sang prabu Brawijaya dan diterima dengan suka cita. Lalu sang prabu menanyakan pada sang patih siapakah pemilik padi ini? Maka sang patih menjawab bahwa pemilik padi ini adalah Jaka Walang Tinunu putera janda Ijingan.
Maka teringat oleh sang prabu mengutus untuk memanggil Jaka Walang Tinunu beserta istrinya dengan maksud akan dinaikkan pangkat derajatnya. Dan apabila mereka tidak bersedia supaya dipaksa tanpa menimbulkan cidera pada badannya, bahkan jangan sampai menyebabkan kerusakan pada pakaiannya.. Selanjutnya sang prabu menanyakan siapakah temannya Jaka Pandelegan itu, lalu Jaka Walang Tinunu menjawab bahwa Jaka Pandelegan yang dianggap adiknya itu adalah berasal dari ikan Deleg.Dalam perintah raja itu disampaikan kepada Jaka Pandelegan sudah merasa akan mendapat panggilan, tetapi panggilan tersebut tidak akan dipenuhi, hal tersebut sudah dipertimbangkan dengan  istrinya.
Ketika patih datang menyampaikan panggilan ia menolak. Sekalipun dipaksa tetap membangkang yang selanjutnya menyembunyikan diri di tengah-tengah tumpukan padi pada penangan itu. Dan waktu sang patih berusaha untuk menangkap dan mengepung tempat itu, maka Jaka Pandelegan hilang tanpa bekas (mukso). Setelah menghilangnya sang suami, Nyai Loro Walang Angin yang membawa kendi berpapasan dengan patih di suatu tempat, sewaktu akan ditangkap berkatalah dia : “Biarlah saya simpan terlebih dahulu kendi[6] ini di sebelah barat daya penangan itu.” Dan saat tiba di sebelah timur sumur, maka hilanglah istri Jaka Pandelegan itu.
Setelah suami istri itu hilang, pulanglah sang patih untuk melaporkan peristiwa itu kepada sang prabu. Mendengar kejadian itu baginda sangat kagum atas kecekatan Jaka Pandelegan dan istrinya itu. Yang akhirnya prabu Brawijaya mengeluarkan perintah untuk mendirikan dua buah candi untuk mengenang peristiwa suami istri. Maka didirikanlah candi itu yang satu didirikan dimana Jaka Pandelegan hilang yang diberi nama Candi Pari, yang satunya didirikan dimana tempat bekas Nyai Loro Walang Angin menghilang denga  diberi nama Candi Sumur. Dan kedua candi itu baru selesai pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk kira-kira pada tahun 1371 M.

B. Pengamatan Visual Candi Sumur
Candi Sumur terletak di Dukuh Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Berada di atas lahan seluas 315 meter persegi, dan di ketinggian 4,42 di atas permukaan laut.
Candi ini terbuat dari bata merah berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8m x 8m, dan tinggi 10 meter menghadap ke barat. Arsitetkturnya terdiri dari bagian kaki, tubuh dan atap. Tetapi sudah tidak utuh karena rapuh oleh faktor alam (jamur dan penggaraman). Pada bagian tubuh terdapat bilik kosong yang seharusnya berisi Lingga Yoni, dan terdapat lubang ke dalam menyerupai sumur. Atap bangunan sendiri masih utuh tetapi terletak di bawah karena terjatuh dan karena tubuh sudah tidak kuat menahan beban puncak yang terbuat dari batu kali ukuran besar berbentuk balok.
Keberadaan ini dihubungkan dengan Candi Pari yang berada 100 meter di sebelah utaranya. Pada ambang atas pintu masuk Candi Pari ditemukan angka tahun 1371 M, sezaman dengan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Berdasarkan bentuk bangunan yang tidak jauh dari Candi Pari, maka diperkirakan candi ini didirikan sekitar abad ke XIV M dan berlatar belakang agama Hindu. Candi ini pernah dipugar oleh Dinas Purbakala Trowulan Jawa Timur pada tahun 1999-2003 dalam proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Dengan hasil pemugaran kaki candi 70%, tubuh 40%, dan atap 40%
Sebagai juru kunci situs ini adalah Bapak Mustain (45 Tahun) yang akrab dipanggil Pak Tain, yang meskipun sedang menderita stroke, beliau tetap aktif dan bersemangat mendampingi tamu yang berkunjung meskipun ada keterbatasan komunikasi karena beliau tidak bisa berbicara akibat penyakitnya itu. Beliau adalah generasi ke tiga dari juru kunci yang saat ini berstatus sebagai pegawai negeri sipil.
Candi ini menurut beliau masih sering mendapat kunjungan dari masyarakat. Baik yang bertujuan hanya sekedar berwisata, observasi maupun  untuk keperluan spiritual seperti sembahyang oleh umat Hindu, maupun ritual-ritual lain. Di tengah-tengah bangunan terdapat sebuah lubang persegi kira-kira berukuran 50 centimeter persegi dengan kedalaman mencapai 2 meter. Di dalam lubang tersebut banyak diumpai beberapa koin yang menurut pak Tain itu adalah uang yang sengaja dilemparkan sebagai bentuk syukur dan ngalap berkah[7].
Di pojok (sudut) bangunan dalam, terdapat beberapa tempat sesaji. Yang paling mencolok adalah keberadaan sisa dupa sebagai sarana utama dalam ritual.

C. Pandangan atau Respon Masyarakat Sekitar Terhadap Keberadaan Candi
1. Ibu Sukarti
Ibu Sukarti adalah pendatang sejak tahun 1997. Beliau belum paham sepenuhnya mengenai Candi Sumur. Beliau hanya mengetahui sekedar saja dan yang beliau ketahui selain digunakan “barikan”[8] setiap tanggal 17 Agustus, ada juga warga yang bernadzar atau berdo’a memohon agar hajatnya terkabul di tempat tersebut. Selain itu banyak dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mengadakan ritual-ritual gaib (melekan) dengan tujuan untuk memperoleh benda-benda gaib seperti keris, batu akik, dan lain-lain
2. Bapak Hasim
Beliau adalah penduduk asli. Dalam wawancara banyak hal yang ditutupi karena alasan tertentu. Beberapa info dari beliau adalah pada malam hari Jumat Legi biasanya banyak gadis-gadis dari “kulonan”[9] yang mengadakan ritual tertentu dengan tujuan tertentu, seperti mengharapkan dapat jodoh dan lain-lain
3. Ibu Kasiam
Karena alasan tertentu beliau tidak berani bertutur kata tentang candi ini. Alasan utama beliau adalah karena berhubungan dengan hal-hal mistis yang dialami
Kesimpulan dari beberapa responden tersebut di atas adalah masyarakat sekitar tidak mengetahui secara detail mengenai candi ini. Hal ini disebabkan karena banyak warga sekitar yang apatis terhadap keberadaan situs sejarah, bahkan ada yang karena unsur-unsur mistis yang ada, seperti mereka takut akan mendapat karma[10] dari “makhluk penunggu” candi. Selain sebagai ritual khusus yang sering diadakan orang-orang tertentu, setiap bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa di kawasan Candi Pari diadakan acara Ruwah Deso[11] dengan mendatangkan kesenian tradisional berupa wayang kulit sebagai bentuk rasa syukur dan mendoakan leluhur.

D. Korelasi Keberadaan Candi Terhadap Masyarakat Dari Tinjauan Psikologi
Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perubahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsi-fungsi bawaan sebagai dasarnya. Berbagai persoalan mendasar yang muncul dalam kajian kepribadian dalam tinjauan lintas budaya dia atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa tepatnya kepribadian itu. Suatu kenyataan yang merangsang perlunya kajian-kajian yang bersifat lokal atau indigenous personality yang mampu memberi penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam. Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tersebut.
Candi Sumur bagi bebrapa warga merupakan tempat yang berfungsi dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat spiritual. Hal ini membuktikan bahwa manusia dalam kehidupannya masih membutuhkan ketenangan batin, atau suatu spirit atau tenaga “segar” dengan cara mencari cara lain ( others way) dalam usahanya memperoleh atau memperjuangkan keinginannya. Banyak makna-makna simbolik yang mereka gunakan dalam rangka pencapaian itu.
Berikut adalah beberapa tinjauan aspek psikologis budaya-budaya yang terdapat dalam Candi Sumur
1. Keberadaan Sumur di tengah-tengah bangunan candi. Secara filosofis ini adalah cirri utama dari candi itu. Sumur secara visual adalah merupakan pusat karena terletak di bangunan utama dan tepat berada di tengah-tengah. Makna yang terkandung mengenai keberadaan sumur ini adalah bahwa sumur merupakan sumber air, sedangkan air sendiri adalah sumber kehidupan. Maka tidak heran apabila pada hari-hari tertentu banyak orang yang datang ke tempat ini dan membuang beberapa koin. Mereka percaya dengan itu semua hajat atau keinginan mereka akan tercapai. Dalam tinjauan psikilogi, setelah membuang dan melakukan ritual lainnya di tempat itu mereka akan tersugesti akan terkabulnya segala keinginannya. Menurut Agus Mustofa dalam karyanya Pusaran Energi Ka’bah, di tempat-tempat hening dan tempat dimana banyak manusia yang mengadakan ritual keagamaan, maka banyak tercipta medan magnet-medan magnet yang akan berdampak positif bagi jiwa pelakunya ( ketenangan) dari rasa tenang tersebut, para pelaku ritual akan memperoleh tenaga (sugesti) tersendiri dalan usahanya mencapai keinginan.
2. Disamping itu, adanya dupa sebagai sarana berdo’a juga akan membawa keyakinan tersendiri bagi pelaku ritual. Aroma harum khas yang keluar dari asap dupa membawa dampak berupa ketenangan dan kekhusu’an bagi yang berdo’a. Dalam konteks ajaran agama salah satu unsur agar do’a itu makbul (terkabul) adalah dengan khusyu’ dan tenang, yang dalam hal ini aroma dari asap dupa menjadi sarananya.
3. Mengingat adanya faktor cerita asmara dalam cerita sejarah Candi Sumur, maka tidak heran jika tempat ini digunakan sebagai salah satu tempat ritual bagi beberapa warga, khususnya gadis-gadis sebagai tempat untuk berikhtiyar berdo’a mengenai problematika asmara mereka. Dari sini mereka akan mempunyai motivasi tersendiri, bahkan tidak menutup kemungkinan cerita-cerita asmara itu akan banyak mengilhami kehidupan mereka kelak. Seperti keteguhan kedua putrid Kyai Gede dalam memperjuangkan cintanya, dan kesetiaan Nyai Loro Walang Angin untuk tetap berada di sekitar Candi Pari karena sudah berkomitmen dengan suaminya untuk tidak memenuhi panggilan sang prabu
4. Bagi Pak Mustain, sebagai juru kunci keberadaan Candi ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi beliau, karena beliau merasa bersyukur bahwa warga sekitar adalah termasuk keturunan dari pelaku sejarah kerajaan besar di zamannya yaitu Kerajaan Majapahit. 
5. …………..“Kalau kamu sudah selesai bertanam adakanlah selamatan apabila kamu ingin berhasil.”……………….. Dalam dunia ilmu psikologi penggalan kalimat percakapan antara Jaka Pandelegan dan nabi Khidir yang menjelma menjadi orang tua di atas adalah dalam pengertian tentang motif theologies, yakni motif yang terjadi dalam hubungan/interaksi antara manusia dengan Tuhannya. Disamping itu dalam perspektif ilmu kawruh jiwa, hal tersebut mencerminkan bahwa manusia adalah makhluk yang bersifat “sial”, oleh sebab itu dia mencari pertolongan dari kekuatan di luar dirinya dalam hal ini adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan.[12]
6. Maka teringat oleh sang prabu mengutus untuk memanggil Jaka Walang Tinunu beserta istrinya dengan maksud akan dinaikkan pangkat derajatnya…………….Hubungan dengan dunia psikologi dalam kalimat tersebut bisa dilihat dari perspektif tentang teori belajar, dimana karena keberhasilan dari Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan, mereka mendapatkan reward dari sang Prabu. Dimana tujuan dari diberikannya reward ini selain sebagai hadiah juga sebagai cara untuk menyemangati kedua pemuda tersebut, ini berkaitan erat dengan teori piramida motivasi yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, dimana esteem merupakan unsur pokok kebutuhan manusia akan dihargai.


[1] Dukuh adalah sebutan untuk sebuah dusun
[2] Sekarang menjadi desa Kesambi
[3] Wuwu adalah sejenis alat penangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu
[4] Sejenis ikan lele tetapi tidak mempunyai sungut (kumis)
[5] Selamatan adalah acara yang digelar oleh masyarakat yaitu berupa do’a bersama, biasanya diadakan sebelum memulai atau setelah selesainya suatu rangkaian kegiatan dengan maksud sebagai perwujudan agar usaha yang dimulai mendapatkan ridho dari Tuhan dan jika diselenggarakan di akhir dengan tujuan sebagai ungkapan rasa Syukur
[6] Kendi adalah sejenis teko yang terbuat dari tanah liat. Biasanya digunakan sebagai tempat air minum
[7] Ngalap berkah adalah kegiatan semacam mencari restu atau keberkahan dari Tuhan
[8] Barikan adalah acara do’a bersama yang diselenggarakan dengan cirri khas adanya makanan berupa tumpeng dan makanan tradisional lain. Biasanya digunakan dalam upacara-upacara hari-hari besar atau hari-hari tertentu
[9] Kulonan adalah sebutan untuk orang yang bertempat tinggal di daerah barat Jawa Timur seperti Blitar, Kediri, Tulungagung.
[10] Dalam hal ini menurut mereka sewaktu kami datang untuk mencari info dua responden yang merupakan warga asli merasa didatangi oleh “penunggu” ghaib dari Candi Sumur, dan dalam kontak mereka dilarang untuk memberitahukan informasi lebih detail mengenai Candi Sumur
[11] Ruwah deso adalah adat orang Jawa yang diselenggarakan dalam rangka mendoakan leluhur
[12] Abdurrahman El-‘Ashiy, Makrifat Jawa. PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta : 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Pengikut